Bahaya dan Penanganan Pencemaran Marine Debris
PENCEMARAN LAUT
Dibuat
oleh :
Meisya
Zuhraiga Saragih (E1I020002)
Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu
BAHAYA DAN PENANGANAN PENCEMARAN MARINE DEBRIS
PENDAHULUAN
Laut
sangat penting bagi kehidupan manusia dan juga habitat bagi biota laut. Manusia
memanfaatkan sumber daya laut terdapat didalam dan diatas laut. Menurut Kusumawati
et al., (2018) Populasi manusia yang beraktifitas di wilayah pesisir
adalah 33 % dari populasi manusia di dunia. Populasi manusia di pesisir sangat
mempengaruhi peningkatan pencemaran laut. Executive Director World Ocean Summit
2017 Charles Goddard mengatakan laut dunia sedang mengalami ancaman pencemaran
terkait dengan aktivitas manusia di kawasan pesisir. Kegiatan manusia di
kawasan pesisir menghasilkan banyak sampah dan jumlahnya secara global terus
meningkat (Topcu et al, 2013).
Wilayah pesisir
adalah zona transisi antara benua dan bumi laut, di mana sifat-sifat darat dan
laut terus saling mempengaruhi satu sama lain. Kawasan tersebut memiliki
potensi sumber daya yang kaya dan jasa lingkungan yang indah serta
daerah-daerah yang memiliki masalah besar, termasuk pencemaran.
Pencemaran menurunkan kualitas lingkungan dan mengganggu kelangsungan
sumber daya alam terkait, termasuk sampah laut (Johan et al., 2019).
Pencemaran
Pesisir dan laut semakin bertambah dengan masuknya sisa-sisa aktifitas manusia
selain masukkan dari alam. Sampah masuk ke laut, terbawa oleh arus dan bergerak
mengikuti arah arus laut disebut dengan sampah laut. Sampah laut yang popular
dengan istilah marine litter atau marine debris adalah material solid non-alami
yang ditinggalkan atau dibuang ke laut oleh manusia baik dengan sengaja maupun
tidak sengaja, begitu juga dengan objek-objek yang dialirkan ke laut melalui
sungai dan saluran pembuangan limbah rumah tangga dan industry. Secara umum
sampah laut merupakan setiap benda yang ada di permukaan laut, dalam laut, dan
pantai sebagai dampak dari aktivitas manusia.
Pencemaran
sampah plastik di laut disebabkan oleh tempat pembuangan akhir limbah yang
tidak dikelola dengan baik di wilayah pesisir. Cina merupakan negara yang
memiliki pengelolaan sampah terburuk, lebih dari seperempat sampah plastik di
tempat pembuangan limbah di wilayah pesisir Cina tercemar ke laut.5 Selain itu,
bencana alam seperti badai dapat membawa sampah plastik yang berada di
tempat-tempat maupun kota di wilayah pesisir melalui saluran limbah serta
sistem pengolahan limbah yang buruk juga dapat menyebabkan pencemaran sampah
plastik di laut. Kapal juga merupakan penyumbang sampah di laut, kemungkinan
besar sampah di laut didominasi oleh alat tangkap yang sengaja ditinggalkan dan
hilang, jika dilihat ke daerah yang jauh dari pembangunan perkotaan, peralatan
alat tangkap yang dibuang menjadi 50-90% bagian dari total sampah di laut
(Wahyudin dan Afriansyah, 2020).
Sampah
laut merupakan isu penting dalam masalah lingkungan yang dihadapi oleh
pertumbuhan penduduk dan peningkatan kegiatan pembangunan di wilayah tersebut.
Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan penduduk, diikuti pertumbuhan
pendapatan, perubahan pola konsumsi, pertumbuhan ekonomi, serta urbanisasi dan
industrialisasi, meningkatkan potensi timbulan TPA dan berbagai jenis sampah
per kapita. (Djaguna et al., 2019). Sampah laut yang dibuang dan
menumpuk serta menyebar di permukaan laut dan pantai terdiri dari material
organik maupun anorganik yang padat dan tidak mudah terurai.
ISI
Sampah
laut atau marine debris adalah semua material berbentuk padatan yang tidak
dijumpai secara alami (merupakan produk kegiatan manusia) di wilayah perairan
(lautan, pantai) dan dapat memberikan ancaman secara langsung terhadap kondisi
dan produktivitas wilayah perairan. Sampah laut, didefiniskan sebagai bahan
padat yang sulit terurai, hasil pabrik atau olahan yang dibuang atau dibiarkan
di lingkungan laut dan pesisir. Sampah lautan dapat ditransport oleh arus laut
dan angin dari satu tempat ke tempat lainnya, bahkan dapat menempuh jarak yang
sangat jauh dari sumbernya. Permasalahan sampah umum dihadapi pada daerah
perkotaan di negara Asia Tenggara, seiring meningkatnya jumlah penduduk,
diikuti peningkatan pendapatan, sehingga mengakibatkan meningkatnya potensi
timbulan sampah perkapita dan beragamnya jenis sampah yang dihasilkan.
Sumber
Masuknya Sampah Laut
Sampah
laut masuk ke dalam laut melalui beberapa sumber, di antaranya:
- Limbah industri: Industri dapat membuang limbah cair atau padat ke dalam sungai atau laut, yang kemudian dapat membawa limbah ke dalam laut. Limbah industri biasanya mengandung bahan kimia beracun dan dapat membahayakan makhluk hidup di laut.
- Sampah darat yang terbawa air: Sampah darat yang terbawa oleh air hujan atau sungai juga dapat masuk ke dalam laut. Sampah seperti plastik, kertas, dan logam dapat terbawa oleh arus air dan akhirnya mencapai laut.
- Pembuangan sampah langsung ke laut: Beberapa orang dan industri mungkin membuang sampah langsung ke laut, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Ini termasuk pembuangan limbah kapal, pelepasan jaring ikan yang tidak diambil, atau pembuangan sampah dari pantai yang dianggap tidak penting.
- Kapal yang karam: Kapal yang karam dapat menjadi sumber besar sampah laut, terutama jika kapal tersebut mengangkut bahan kimia atau limbah berbahaya. Sampah kapal yang terlepas dari kapal karam dapat terbawa oleh arus laut dan mengalami proses degradasi yang lambat.
Bahaya Sampah Laut
Pencemaran
sampah laut tentunya sangat berbahaya baik bagi lingkungan sekitar dan
berdampak pada berbagai hal seperti dampak terhadap sosial ekonomi masyarakat
dan dampak terhadap ekologi lingkungan perairan. Dampak ekologi yang terjadi
oleh sampah laut seperti plastik ternyata dapat mempengaruhi jumlah biota yang
masuk dalam IUCN, yang dapat digolongkan sebagai biota laut red list ataupun
tidak, hal tersebut dikarnakan sampah plastik dapat dianggap sebagai makanan
alami sekaligus menjadi perangkap bagi biota laut (Assuyuti et al.,
2018; Gall dan Thompson, 2015; Harison et al., 2011). Sampah laut juga
dapat berdampak ke manusia melalui mekanisme transfer makanan seperti ikan dan
moluska. Dampak akan sampah laut tersebut yang sangat berbahaya bagi lingkungan
ataupun manusia yang menyebabkan hal tersebut menjadi pusat perhatian dunia
terutama di Indonesia karena merupakan penyokong sampah laut (marine debris)
terbesar nomor dua di dunia (Jambeck et al., 2015).
Masuknya
sampah laut ini berdampak buruk pada ekosistem laut, karena sampah dapat
merusak lingkungan hidup ikan dan hewan laut. Selain itu, beberapa jenis
sampah, seperti plastik, bisa sangat sulit untuk diuraikan dan dapat mengancam
kesehatan manusia jika dikonsumsi oleh hewan laut yang kemudian menjadi bagian
dari rantai makanan. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengurangi
penggunaan plastik sekali pakai dan melakukan tindakan yang membantu mengurangi
sampah laut, seperti mendaur ulang sampah dan membersihkan pantai dan laut
secara teratur (Ningsih et al., 2020).
Penanganan
Sampah Laut
1. Pengurangan
Sampah
Cara
terbaik untuk mengatasi sampah laut adalah dengan mengurangi sampah yang
dihasilkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan bahan plastik
sekali pakai dan mengganti dengan bahan yang dapat didaur ulang atau bahan organik.
Selain itu, dapat juga dilakukan dengan memilih produk yang memiliki kemasan
minimal atau tanpa kemasan.
2. Pemilahan
dan Pengolahan
Sampah yang telah dikumpulkan harus dipilah
dan diolah dengan benar. Sampah plastik dapat didaur ulang menjadi produk baru
seperti tas belanja atau bahan bakar alternatif. Sedangkan sampah organik dapat
diolah menjadi pupuk organik atau biogas. Menurut Syabana et al., (2023)
Jumlah sampah yang mencemari lautan bisa dikurangi dengan cara memilah sampah
di pantai. Pemilahan sampah merupakan kunci awal kegiatan pengelolaan sampah.
Dengan proses pemilahan sampah di pantai akan mempermudah pengelola sampah di
tahap berikutnya serta bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.
3. Memberikan
Edukasi dan Meningkatkan Kesadaran bagi Masyarakat
Meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan laut dan pengurangan
sampah laut sangat penting dalam mengatasi masalah sampah laut. Edukasi dapat
dilakukan melalui kampanye sosial, seminar, atau program-program edukasi yang
terkait dengan pengelolaan sampah laut (Asmal dan Silfanny, 2023).
4. Memberikan
Sanksi dan Hukuman bagi pelanggaran pengelolaan sampah laut
Sanksi
yang diberikan kepada pelaku pelanggaran pengelolaan sampah laut harus diatur
dalam undang-undang atau peraturan yang berlaku, sehingga dapat memberikan efek
jera bagi pelaku pelanggaran dan mencegah terulangnya pelanggaran di masa
depan. Penerapan sanksi bagi pelanggar harus dilakukan secara konsisten dan
terus-menerus untuk menjamin efektivitasnya dalam menjaga kebersihan laut.
Selain itu, kerjasama internasional juga penting dalam penanganan sampah laut,
mengingat masalah ini bersifat global dan membutuhkan upaya bersama dari
berbagai negara.
KESIMPULAN
Sampah
laut merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan ekosistem laut dan kehidupan
manusia. Sampah laut yang dibuang dan menumpuk serta menyebar di permukaan laut
dan pantai terdiri dari material organik maupun anorganik yang padat dan tidak
mudah terurai. Oleh karena itu, penanganan sampah laut sangat penting untuk
menjaga keberlangsungan hidup lingkungan laut dan manusia. Upaya-upaya seperti
mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, melakukan daur ulang dan
pengelolaan sampah yang baik, serta kampanye dan edukasi tentang bahaya sampah
laut dapat membantu mengurangi dampak negatif dari sampah laut.
DAFTAR
PUSTAKA
Asmal,
S., dan Silfanny, S. 2023. Sosialisasi Bahaya Abrasi Pantai dan Sampah Laut
(Marine Debris). Jurnal Pengabdian Masyarakat Hasanuddin. 50-55.
https://doi.org/10.20956/jpmh.v4i1.26351
Assuyuti,
Y. M., Zikrillah, R. B., Tanzil, M. A., Banata, A., dan Utami, P. 2018.
Distribusi dan jenis sampah laut serta hubungannya terhadap ekosistem terumbu
karang Pulau Pramuka, Panggang, Air, dan Kotok Besar di Kepulauan Seribu
Jakarta. Majalah Ilmiah Biologi Biosfera: A Scientific Journal. 35(2),
91-102.
https://doi.org/10.20884/1.mib.2018.35.2.707
Djaguna,
A., W. E. Pelle., J. N. W. Schaduw., H. W. K. Manengkey., N. D.C. Rumampuk., E.
L. A. Ngagi. 2019. Identifikasi Sampah Laut di Pantai Tongkaina dan Talawaan
Bajo. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis. 7(3) : 173 – 180.
https://doi.org/10.35800/jplt.7.3.2019.24432
Gall,
S. C., dan Thompson, R. C. 2015. The impact of debris on marine life. Marine
pollution bulletin. 92(1-2), 170-179.
https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2014.12.041
Harrison,
J. P., Sapp, M., Schratzberger, M., dan Osborn, A. M. 2011. Interactions
between microorganisms and marine microplastics: a call for research. Marine
Technology Society Journal. 45(2) : 12-20.
https://doi.org/10.4031/MTSJ.45.2.2
Jambeck,
J.R. 2015. Plastic waste inputs from land into the ocean. Science. 347 :
1655-1732.
https://doi.org/10.1126/science.1260352
Johan,
Y., Renta, P. P., Purnama, D., Muqsit, A., dan Hariman, P. 2019. Jenis Dan
Bobot Sampah Laut (Marine Debris) Pantai Panjang Kota Bengkulu. Jurnal
Enggano. 4(2), 243-256.
Kusumawati,
I., Setyowati, M., dan Salena, I. Y. 2018. Identifikasi Komposisi Sampah Laut
Di Pesisir Aceh Barat. Jurnal Perikanan Tropis. 5(1) : 59-69.
https://doi.org/10.35308/jpt.v5i1.1026
Maharani,
H. W., Yuliana, D., Diantari, R., dan Kartini, N. 2022. Pemahaman Masyarakat
Desa Tarahan Kecamatan Katibung Kabupaten Lampung Selatan Tentang Sampah Laut
(Marine Debris). Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas
Lampung. 1(1) : 88-92.
http://dx.doi.org/10.23960/jpfp.v1i1.5785
Ningsih,
N.W., A. Putra., M. R. Anggara., H. Suriadin. 2020. Identifikasi Sampah Laut
Berdasarkan Jenis dan Massa di Perairan Pulau Lae-Lae Kota Makasar. Jurnal
Pengelolaan Perikanan Tropis. 4(2) : 10-18.
Syabana,
R. A., Purwanto, E., dan Hidayaturrahman, M. 2023. Pemilahan Sampah Laut
(Marine Debris) Di Pantai Sapeken, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. J-Abdi:
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. 2(9) : 6267-6272.
https://doi.org/10.53625/jabdi.v2i9.4847
Topรงu,
E. N., Tonay, A. M., Dede, A., รztรผrk, A. A., dan รztรผrk, B. 2013. Origin and
abundance of marine litter along sandy beaches of the Turkish Western Black Sea
Coast. Marine environmental research. 85, 21-28.
https://doi.org/10.1016/j.marenvres.2012.12.006
Wahyudin,
G. D., dan Afriansyah, A. 2020. Penanggulangan Pencemaran Sampah Plastik Di Laut
Berdasarkan Hukum Internasional. Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan. 8(3)
: 529-550.
https://doi.org/10.29303/ius.v8i3.773


Komentar
Posting Komentar